Selasa, 09 Oktober 2007

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Deskripsi Temuan
Setelah melihat data SAP dan nilai peserta didik sebelum diadakannya PTK (lihat lampiran), tampak kalau nilai Listening dan Speaking kurang memuaskan. Selain itu melalui pengamatan langsung di kelas, peserta didik banyak membuat kesalahan dalam mengucapkan kata-kata atau ekspresi bahasa Inggris; disamping juga rendahnya daya tangkap mereka terhadap spoken expressions dari Native Speakers (melalui cassette, dll).
B.Deskripsi Siklus
Dari data test I, pada siklus I PTK ini, kita bisa melihat nilai untuk speaking lebih tinggi dari listening, yang hanya mencapai 4.50. Sementara untuk Vocab, nilai rata-rata mencapai 7.00 dan niaoi reading hanya 4.90. Mereka yang nilai listeningnya bagus cenderung bagus pula nilai speakingnya; meskipun nilai vocab mereka juga bagus.
C.Deskripsi Siklus II
Pada silklus I belum ditemukan korelasi niai listening dan speaking secara signifikan,karena ada pengaruh nilai vocab dan reading. Untuk lebih fokus, karena penelitian ini menyorot tentang listening dan speaking, maka penulis mengadakan test yang kedua yakni test Listening dan Speaking saja (hasilnya pada lampiran 1.2). dari data tersebut bisa dilihat, kalau anak yang listeningnya bagus memiliki nilai speaking yang bagus juga.
D.Pembahasan Tiap Siklus
a)Siklus I
Setelah melihat data test nilai, kita bisda tahu kalu nilai tertinggi listening adalah 7.00; yag dicapai oleh Henry Utomo, M.Ilyas, dan Sutarti. Nilai tertinggi vocab adalah 8.00, dicapai oleh 11 peserta didik. Untuk nilai tertinggi reading adalah 6.80, yang dicapai oleh Endang Ekawati dan Sutarti. Sementara itu nilai tertinggi speaking dicapai oleh Teguh Fajar R, yakni 7.30.
Seandainya kita lihat, sebagai contoh,nilai Teguh Fajar R untuk Vocab,Reading, Listening dan Speaking adalah masing-masing 8,6.4,4 dan 7.3; lalu untuk Sutarti masing-masing adalah 8,6.8,7 dan 4.9, kita mungkin belum menemukan korelasi antara kemampuan listening dan speaking. Mengapa? Karena dalam PTK sample tidak bisa mewakili keseluruhan data; semua populasi dalam PTK adalah sample. Begitupun satu siklus belumlah mencukupi untuk melihat perubahan dari proses pembelajaran; diperlukan sikus II, III, dst.
b)Siklus II
Dalam siklus II ini, penulis telah menggunakan SAP perbaikan (lihat lampiran 1.3); sebuah sap yang didesain untuk pemelajaran yang berfokus pada Listening dan speaking. Setelah diadakan test speaking dan listening (lihat hasil test di lampiran 1.2), kita bisa melihat kalau kebanyakan peserta didik yang nilai listeningnya bagus cenderung bagus pula nilai speakingnya.
E.Hasil Penelitian
Dengan melihat adanya korelasi antara kemampuan listening dan kemampuan berbicara, penulis selaku pengajar membuat banyak latihan listening dan pengayaan kosakata baru bagi peserta diklat. Ternyata metode ini bisa mendongkrak kemampuan speaking peserta didik/diklat.
Sehingga untuk SAP Perbaikan, pemelajaran listening harus lebih intensif; karena Listening sangat menunjang kemampuan peserta diklat dalam berbicara.Tentunya, pemelajaran listening yang materinya dari Native Speaker,dalam hal ini bisa dilakukan dengan penggunaan perangkat ajar audio visual.

Tidak ada komentar: