Minggu, 23 Januari 2011

CARA GURU MENGAJAR YANG MASIH KONVENSIONAL






Peranan guru penting dalam proses belajar mengajar. Tapi sayang sekali masih banyak guru yang memberikan pengajaran dengan cara konvensional. Oleh karena itu guru perlu diberi pelatihan agar mampu mengembangkan diri, mengajar secara interaktif, dan mendorong siswa berperan aktif di setiap pembelajaran.
Menurut United States Agency for International (USAID) menyebutkan bahwa kurang lebih sepertiga pelajaran yang diobservasi di kelas tingkat dasar sampai pendidikan tinggi masih didominasi dengan ceramah.
Menurut Dirjen Dikti Kementrian Pendidikan Nasional, Djoko Santoso pun berpandangan sama “Masih banyak guru dan dosen di Indonesia yang menerapkan perkuliahan dengan metode pembelajaran konvensional” Akibatnya proses belajar mengajar tidak berjalan secara kreatif, efektif dan menyenangkan. “ Dosen atau guru hanya memberikan kuliah di depan kelas dan mahasiswa sebagai pendengar”
Menurut Retno Listyarti, guru SMA Negeri 13 Jakarta Utara mengatakan bahwa sebagian besar guru belum mampu menerapkan metode pengajaran yang interaktif untuk mendorong siswa terlibat secara aktif di dalam kelas. Seharusnya dengan gaji guru yang semakin meningkat semestinya keprofesionalan guru dalam mengajar juga meningkat.
Pengalaman yang dialami oleh Retno mengungkapkan bahwa setiap kali ke luar kota untuk MGMP dia menemukan masih banyak guru yang lebih memberikan ceramah di kelas dibanding memikirkan bagaimana siswa berperan aktif.Guru tidak menciptakan kegiatan dan suasana yang menarik bagi para siswa.
Junaedi seorang guru akuntansi SMAN 112 Jakarta berpadangan bahwa kegiatan belajar mengajar dengan pola satu arah dianggap sudah ketinggalan zaman. Saat ini dengan basis teknologi yang lebih dikedepankan.
Menurut Junaedi penggunaan teknologi membuat waktu mengajar bisa lebih optimal. Ini berbeda dengan seorang guru mengajar masih menggunakan white board. Banyak waktu terbuang hanya untuk menuliskan materi.
Retno tidak sependapat jika menyamaratakan semua cara guru mengajar. Ia selalu menggunakan metode mengajar yang interaktif. Dia mengungkapkan dalam proses belajar selama ini. Retno mengatakan selalu menggunakan berbagai media untuk memberikan pengajaran kepada siswanya. Dalam mengajarkan PPKn dia menggunakan bantuan film. Dengan menonton film selain menyenangkan siswa diminta menceritakan pandangannya tentang film itu. Atau menilai apa yang terkandung di dalamnya. Retno juga menggunakan metode bermain peran untuk mata pelajaran kewarganegaraan. Misalnya siswa bisa menjadi presiden, menteri, anggota dewan dll. Tujuannya adalah siswa berhak menentukan siapa dirinya dan mau jadi apa.
Dengan bermain peran mereka juga belajar bagaimana mengeluarkan pendapat karena mereka punya hak untuk itu. Pengajaran yang menyenangkan dan mendorong siswa berperan aktif tidak harus menggunakan metode buku yang dipelajari pada pelatihan guru. Guru harus kreatif agar anak didik mampu menyerap pelajaran dengan baik
Itu bisa dilakukan dengan pembelajaran yang menyenangkan. Seharusnya dengan gaji guru yang meningkat profesionalisme guru dalam mengajar juga meningkat. Tentu harus ada profesionalisme dalam diri guru itu sendiri. Di SMA Negeri 112 ungkap Junaid diterapkan sistem kelas keliling.Jika dahulu siswa yang menunggu guru mata pelajaran datang pada jam tertentu sekarang diubah. Siswa harus datang ke kelas yang memang diperuntukkan bagi mata pelajaran tertentu.
Sistem ini mencontek cara pendidikan di universitas. Saat berganti pelajaran siswa pun ikut berganti kelas.Dengan sistem ini diharapkan siswa tidak jenuh berada di suatu kelas yang sama selama satu tahun pelajaran. Hanya saja sisi negatifnya terjadi saat pergantian waktu tiba. Jeda waktu pindah kelas kadang tidak sesuai sehingga sering terjadi keterlambatan proses belajar mengajar.
Beberapa guru di sekolah itu sudah berinovasi dalam proses belajar mengajar. Misalnya guru IPA lebih sering melakukan praktik. Halaman dan lingkungan sekolah sering dijadikan tempat belajar.


(Republika 14 Juni 2010)
Sudjono

0 komentar: